• SMP NEGERI 3 CILEUNYI
  • TAQWA, CERDAS, KREATIF, INOVATIF

MEWUJUDKAN KOMPETENSI SISWA ABAD 21 DALAM PERSEKTIF PEMIKIRAN KI HAJAR DEWANTARA

Lahirnya tokoh Pahlawan Pendidikan Ki Hajar Dewantara di bumi Indonesia tepatnya di tanah Yogyakarta, bagi Bangsa Indonesia merupakan suatu anugerah takdir Tuhan yang sangat perlu disyukuri mengingat peran beliau yang telah sangat berjasa bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Ki Hajar Dewantara yang terlahir pada tanggal 2  Mei 1889 dengan nama Raden Mas Soewardi Suryaningrat merupakan sosok bangsawan sejati namun berjiwa rendah hati dan sangat menyayangi kalangan rakyat pada masa itu. Pendidikan yang diraihnya sebagai bangsawan telah menggugah jiwa suci dan membuka pikiran cerdasnya tentang pendidikan bagi rakyat biasa. Dalam benaknya telah tumbuh benih pemikiran bahwa andai saja rakyat Indonesia dapat merasakan makna pendidikan bagi kehidupan tentu bangsa Indonesia dapat bangkit melawan penjajah dan meraih kemerdekaan hidup yang hakiki sebagai pribumi yang memiliki kekayaan bangsa Indonesia seutuhnya.

Sejarah pendirian perguruan Taman Siswa pada tahun 1922 telah menjadi pemantik api semangat lahirnya perjuangan bangsa Indonesia menghapuskan kebodohan yang selama ini melekat sebagai gambaran rakyat Indonesia yang lemah dan terjajah. Pendidikan yang pada masa itu hanya ditujukan bagi kepentingan dan keberpihakan pada para bangsawan saja, telah diwujudkan menjadi pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Hingga kini, bangsa Indonesia telah menikmati hasil perjuangan Sang Pahlawan Pendidikan dengan merdeka belajar bagi semua anak.

Dalam masa perjuangannya, Ki Hajar Dewantara mengusung konsep pendidikan pertama, guru sebagai penuntun atau pendidikan sebagai proses tuntunan. Kedua, guru sebagai penanam dan pemelihara tumbuhnya benih yang ditanam layaknya petani menanam tanaman di kebun lalu memeliharanya dan merawatnya dengan baik. Ketiga, guru sebagai pembentuk atau pengasuh budi pekerti siswa. Keempat, mewujudkan pendidikan dalam bentuk permainan sebagai upaya belajar yang menyenangkan bagi siswa sesuai kodratnya dan kelima, pendidikan yang berpusat pada siswa atau menghamba pada murid dalam arti pendidikan semata-mata ditujukan bagi perkembangan potensi siswa secara optimal. Pertanyaannya, apakah konsep ini masih relevan dengan pendidikan di Indonesia saat ini?

Sejak masa proklamasi kemerdekaan dan seiring perubahan zaman serta pergantian kebijakan dari para pemegang kewenangan di bidang pendidikan dalam hal ini menteri pendidikan, tentu berbagai upaya reformasi pendidikan telah mengalami pasang surut perjuangan dalam mencapai tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Perubahan dari satu kurikulum ke kurikulum lainnya telah mewarnai aneka problema yang muncul di dunia pendidikan. Sejatinya pendidikan menghasilkan pencapaian dan perubahan ke arah yang lebih baik. Namun mari kita refleksi kembali, sudahkah pada masa sekarang ini hasil pendidikan menggambarkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagaimana yang dituangkan dalam tujuan pendidikan nasional? Jika belum, mengapa dan langkah apa yang harus diperbaharui?

Sebagai pribadi yang telah mengenyam masa pendidikan dari tahun 80-an hingga 2000-an, hingga kini telah melewatkan masa pengabdian sebagai guru selama lebih dari dua puluh tahun dalam mengimplementasikan berbagai teori pendidikan, tentu banyak hambatan dan tantangan yang telah menjadi bahan renungan. Terlepas  dari banyaknya hal-hal positif yang tertuang dari kebijakan kurikulum dan praktek pelaksanaan pendidikan yang telah diterapkan pemerintah, tentu banyak fenomena atau gejala yang teridentifikasi masih kurang berhasilnya upaya guru sebagai pendidik dalam mendidik dan mengajar siswanya. Meskipun bukan sebagai satu-satunya faktor penyebab, namun sudah menjadi sorotan khalayak bahwa kerusakan moral yang terjadi di masyarakat tidak akan terjadi jika guru dapat mendidik siswanya dengan baik. Demikianlah betapa beratnya beban di pundak guru hingga betul-betul harus berusaha mewujudkan visi misi pendidikan dengan sebaik-baiknya.

Salah satu contoh fenomena yang dapat ditemukan dalam dunia pendidikan selama ini adalah bahwa, pendidikan sekedar penguasaan materi dan harus mengejar atau mencapai nilai yang baik, sehingga siswa hanya dituntut hafal materi. Guru dianggap berhasil jika dapat mengantar siswa menjadi rangking tertinggi atau lulus tingkat pendidikan. Metoda pembelajaran dengan cara penugasan yang sama kepada siswa menyebabkan siswa kurang mendapat perlakuan sesuai potensinya. Keseragaman perlakuan dengan dalih supaya mudah, supaya tertib rapid an lain-lain menyebabkan adanya ketidakseimbangan dalam perkembangan lahir batin pribadi siswa. Bisa jadi hal-hal seperti inilah yang menyebabkan munculnya gejala siswa bermasalah yang secara perlahan tapi pasti pada akhirnya mengarah pada kondisi emosi tidak stabil lalu menunjukkan perilaku amoral sebagai pelampiasan dari guncangan-guncangan jiwa.

Upaya pemerintah dalam menyelenggarakan pendidikan nasional saat ini pada prinsipnya telah dirancang sedemikian rupa dengan ide yang jelas tentang kemampuan akademik dan profesional yang sesuai dengan tuntutan revolusi industri abad 21. Perkembangan pengetahuan, industri dan teknologi telah mengantar para pembuat kebijakan untuk mendongkrak konsep pendidikan yang menantang dan berkontribusi pada kesejahteraan dan kehidupan berkelanjutan dalam jangka panjang. Namun demikian, hal ini sepertinya perlu diimbangi dengan mengintrospeksi peran para pendidik, dalam hal ini guru ketika terjun di lapangan atau di lingkungan pendidikan tempat guru mengajar.

Tampaknya harus diakui dengan berbesar hati bahwasanya guru harus belajar kembali konsep-konsep pendidikan yang sungguh-sungguh dapat membangun citra guru dengan baik dan melekat menjadi pribadi guru yang luhur dan menjadi teladan serta memberi dampak nyata bagi perubahan dalam membangun peradaban. Hal ini mengandung makna bahwa konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara sebagaimana yang telah dipaparkan di atas hendaknya menjadi acuan prinsip dasar guru dalam membimbing, mendidik, mengajar dan membina siswa siswinya di sekolah. Meskipun terlahir pada masa yang sangat jauh dari masa kini, namun konsep pemikiran ini sangat bernilai tinggi dan masih relevan dengan kompetensi siswa tuntutan abad 21.

Kompetensi siswa yang menjadi tuntutan pada abad 21 ini menghendaki siswa memiliki keterampilan 4C yaitu Critical Thinking (Berpikir Kritis), Communication (Keterampilan Komunikasi), Collaboration (Keterampilan Kolaborasi) dan Creative (Kreatifitas). Peradaban yang akan dihadapi peserta didik di abad 21 adalah perpaduan pengetahuan, pemikiran, keterampilan inovasi, media, literasi serta Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pengalaman kehidupan nyata. Untuk itu diperlukan peran optimal pendidik dalam menciptakan desain kerangka  proses pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode sehingga pendidikan dapat menjalankan fungsinya untuk membentuk pribadi siswa yang memiliki kompetensi abad 21 tersebut di atas. Namun demikian jangan sampai terlepas dari upaya  mempertinggi derajat kemanusiaan yaitu dapat mewariskan kebudayaan dalam setiap prosesnya agar peserta didik memiliki keluhuran budi pekerti.

Untuk membentuk siswa yang dapat berpikir kritis maka guru dapat memfasilitasi siswa dengan cara menuntun dan mengarahkan agar siswa berani bertanya namun dalam koridor yang benar dan terarah. Hindari guru memerintah dan menakutkan anak hingga merasa tertekan dan tidak bisa berpikir dan berpendapat. Guru hendaknya bersikap menyayangi, mendukung dan membesarkan hati anak agar daya pikirnya tereksplorasi untuk selalu berani bertanya.

Untuk mengembangkan keterampilan komunikasi siswa, guru dapat  menciptakan suasana belajar yang melibatkan semua siswa merasa penting dan bermakna. Misalnya dilibatkan dalam permainan hingga kodratnya secara alam terpenuhi sebagai anak yang senang bermain. Dalam permainan siswa tidak hanya mendengarkan duduk diam tapi juga melibatkan pergerakan fisik dan terdorong untuk menunjukkan perilaku positif (budi pekerti)

Untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi, siswa dapat diperlakukan guru sebagaimana tanaman yang satu sama lain berada di tanah yang sama namun saling tumbuh dengan kemampuannya masing-masing. Siswa yang satu mendukung teman lainnya saling terkait sehingga menumbuhkan lingkungan positif secara global.

Adapun untuk meningkatkan kreativitas siswa, guru hendaknya menanamkan pendidikan yang berpusat pada murid untuk mencapai sebaik-baiknya keberhasilan dalam kehidupannya. Mengutamakan pencapaian belajar pada siswa tanpa paksaan dengan tulus dari hati guru sehingga anak senang berkarya sesuai keinginannya dalam segala bidang yang diminatinya tidak hanya dibatasi sesuai keinginan guru.

Demikianlah bahwasannya kompetensi siswa abad 21 dapat dikembangkan dengan menerapkan konsep-konsep pendidikan Ki hajar Dewantara. Harapannya, pendidikan dapat menyesuaikan tuntutan abad 21 namun dengan tidak mengabaikan nilai-nilai luhur budaya Indonesia. Konsep merdeka belajar yang diusung pemerintah saat ini ditujukan bagi pencapaian tujuan pendidikan nasional mencerdaskan kehidupan bangsa yang tercipta melalui suasana belajar yang menyenangkan. Sehingga muncul kebebasan berekspresi bagi guru maupun siswa di lingkungan sekolah yang terlepas. dari berbagai hambatan dan tekanan psikologis.

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KUNCI KESUKSESAN RAFA

  KUNCI KESUKSESAN RAFA Oleh: Alya Winanda Syawalina Rizki (Juara I Lomba Menulis Cerpen Rayon 5 Kabupaten Bandung)    Cuaca pagi ini sangat cerah. Kulihat senyuma

20/10/2022 14:16 - Oleh SUMYATI - Dilihat 290 kali
NGANJANG KA BULAN

  NGANJANG KA BULAN Ku Sumyati   Wanci nyérélék maju ka peuting. Hawa di kamar   beuki bayeungyang waé karasana ku Néng Asih m

22/09/2022 16:35 - Oleh SUMYATI - Dilihat 243 kali
TERJEBAK TULISAN SENDIRI

     (Oleh: Sumyati )   Mobil xenia putih berhenti pas di depan gerbang utama rumah berlantai dua. Rumah berpagar batu alam yang terletak di jalan utama terlihat

16/09/2022 19:36 - Oleh SUMYATI - Dilihat 295 kali
PUISI RAMADAN

PRAKTIK ZAKAT oleh Sumyati antrian anak pria wanitasatu persatu mendekati mejadijaga tiga anak beliadepan kelas merekadi tangannya uang recehan enam lembar lima ribuan anak berkemeja

23/04/2022 06:38 - Oleh SUMYATI - Dilihat 762 kali
PUISI RAMADAN

BAJU LEBARAN Oleh Sumyati tradisi idul firtiyang tak terpungkiridari cacah hingga priyayiwalau lidah mengingkari, meredam hatidari rayuan mata kanan dan kirishopee, lazada dan toko pe

23/04/2022 06:32 - Oleh SUMYATI - Dilihat 320 kali
PUISI RAMADAN

    ISYA Oleh Sumyati   Rasululloh bersabda:subuh dan isya adalah salat terberat bagi para munafikpadahal telah alloh persiapkan pahalasetara pahala salat sunat sete

21/04/2022 17:10 - Oleh SUMYATI - Dilihat 619 kali
KUTIFAN AUTO BIOGRAFI

  ANTARA TUGAS NEGARA DAN ANAK    H.R. Tirmidzi Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran

16/04/2022 20:37 - Oleh SUMYATI - Dilihat 645 kali
RAMADAN BERPUISI 3

    PESAN AR-RAHMAN    Tahukah Kalian: kenapa allah menciptakan mahluknya berpasangan? ada kemarau ada hujan   ada panas ada dingin ada susah ada sena

16/04/2022 20:05 - Oleh SUMYATI - Dilihat 411 kali
RAMADAN BERPUISI 2

  RASA, CINTA DAN DOSA    Masih tentang hati dan rasa yang tak mampu berhenti mengeja angan, harapan dan kenyataan duka, lara dan kecewa hingga cemburu mengusut na

16/04/2022 19:58 - Oleh SUMYATI - Dilihat 358 kali
ADAKAH YANG KAU LIHAT TAK SEIMBANG Oleh : Omah Karmanah

  GAPAILAH CITA-CITAMU SETINGGI LANGIT, TERBANGLAH SAMPAI KE ATAS AWAN TANPA SENGIT , TUK MENGGAPAI CITA-CITA DAN HARAPAN, TETAP SEMANGAT TUK MASA DEPAN WALAU GELOMBANG DATANG

15/04/2022 14:57 - Oleh Dra. Omah Karmanah, M.M.Pd. - Dilihat 442 kali