MAU BELAJAR MENULIS? AYO KITA MENULIS!
- Rabu, 16 Februari 2022
- SUMYATI
- 3 komentar
MAU BELAJAR MENULIS?
AYO KITA MENULIS!

Oleh Sumyati, M.pd.
“Hoyong nyerat teh, tapi teutiasa.”
Kalimat di atas sering terlontar dari kebanyakan orang, entah itu guru, pelajar bahkan ibu-ibu arisan yang kebetulan pernah membaca tulisanku. Namun sayang, ketika kucoba bertanya apakah pernah memulai menulis, dia menjawab belum pernah. Kebanyakan orang baru membayangkan, sudah mundur duluan. Coba dulu, siapa tahu menjadi suka! Ibarat makan sambel, ketika melihat dan membayangkan sambel itu lada, lalu memilih untuk tidak memakannya. Padahal setelah mencoba makan dengan sambal, ternyata lebih nikmat daripada makan tanpa sambal.
“Bagi-bagi dong teori menulis!”
Lagi-lagi kalimat itu sering terdengar. Di era milenial ini apa sih yang tidak ada di internet? Mari kita buka Mbah Gogle, lalu kita ketik apa yang kita mau. Misalnya, cara menulis cerpen dan contohnya; cara menulis artikel dan contohnya; cara menulis puisi dan contohnya. Apa pun yang kita mau sudah tersaji. Sekarang apa yang kurang pada diri kita? Jawabannya cukup sedernaha, yaitu minat atau kemauan. Setelah melihat postingan teman, barulah berkobar api semangat. “Wah, orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa?” Mungkin bukan tidak bisa, tetapi belum mencoba.
“Bagaimana cara memulai menulis?”
- Jangan berpikir jenis tulisan, menulislah apa yang ada dalam hati.
Bagi pemula, kalimat pertama itulah yang paling sulit. Terkadang duduk berjam-jam sambil menghadapi kertas, memegang pensil, akan tetapi tidak pernah membuahkan tulisan satu kalimat pun. Bingung, apa yang akan kita tulis, seakan-akan pikiran kita ini menjadi kosong melompong. Apalagi setelah kita memikirkan jenis tulisan, apakah itu artikel, cerpen, esai atau puisi. Semuanya seakan semakin menyeramkan. mulailah dengan apa yang pernah kita alami, yang pernah kita lakukan atau apa yang kita inginkan. Yang paling mudah adalah kisah perjalanan atau pengalaman yang mengesankan. Setelah satu kalimat selesai kita tulis, maka kalimat berikutnya akan dengan mudah menyertainya. Contoh: “Malam tadabur alam di Pangandaran.” Dari kalimat tersebut maka akan terlahir alasan-alasan atau argument sesuai dengan apa yang kita rasakan.
- Tangkaplah ide selagi ide melintas dalam pikiran, karena jika dibiarkan berlalu dia tidak akan pernah kembali
Pernahkah mempunyai ide-ide yang ingin dituangkan dalam tulisan? Pasti ide itu pernah ada. Hanya saja tidak segera menangkap ide tersebut, sehingga ide itu hilang begitu saja dihempas angin. Kemana kita akan mencari ide yang hilang itu? Kemungkinan besar ide yang pernah ada hanya sebagian bisa kembali. Bagaimana cara menangkap ide itu? Ada banyak cara dapat kita lakukan. Pertama, gunakan hp untuk menangkap ide singkat itu. Tulislah hal penting dalam hp, entah berupa status, catatan kecil pada dokumen dan sebagainya. Cara kedua, menulis pada kertas. Cukup hanya menulis idenya saja dulu, kita lanjutkan menulis setelah waktunya memungkinkan.
- Jangan berhenti sebelum ide kita tuntas.
Niatkan untuk menulis sesuai dengan topik yang kita pilih. Menulislah apa yang ada dalam hati dan pikiran kita. Jangan berpikir dulu apakah tulisan saya ini benar atau salah. Jangan pula berpikir apakah orang lain akan suka dengan tulisan saya. Menulislah apa yang ada dalam hati dan pikiran kita sampai tuntas. Karena hati kita nanti akan merasakan apakah yang kita tulis ini sudah selesai atau belum.
- Hiraukan tanda baca dan ejaan saat menulis
Menulis berfokuslah kepada ide-ide yang akan kita tulis. Masalah ejaan dan tanda baca, jangan dulu dipikirkan ketika kita sedang menulis. Karena jika kita berfokus kepada tata bahasa, akan menyita pikiran kita. Bisa-bisa ide yang ingin kita tulis akan kembali menghilang karena kita berputar-putar kepada kalimat-kalimat yang telah kita tulis terdahulu. Biarkalnah dahulu, karena nanti kita akan kembali ke awal saat menyunting.
- Anggaplah kertas, pensil atau laptop sebagai teman bicara bukan sebagai dewan juri yang mengawasi kesalahan kita.
Anggaplah media tulisan kita, baik itu kertas, pensil, atau komputer sebagai teman kita berbicara, atau teman curhat. Ketika kita menulis bayangkan bahwa kita sedang bercerita kepada teman, sahabat, saudara dan sebagainya. Jangan menganggap media tulisan sebagai dewan juri yang mengawasi kesalahan kita. Kalau demikian maka tulisan kita tidak akan pernah selesai ditulis, karena kita memiliki perasaan takut salah. Karena kita menganggap bercerita dengan teman, maka gunakanlah bahasa yang mudah kita pahami, bahasa sederhana, bahasa populer di masyarakat. Jika kita menulis dengan bahasa yang berat-berat maka tulisan kita akan terasa kaku dan aneh.
- Menyunting
Langkah terakhir adalah penyuntingan. Kita menyadari bahwa tulisan yang telah kita tulis adalah masih tidak karuan. Idenya berantakan, struktur kalimatnya belum tentu bisa dipahami orang, apalagi ejaan dan tanda baca. Oleh karena itu kita baca kembali, maka akan ditemukan kejanggalan-kejanggalan. Nah, saat itulah kita memperbaiki atau merevisi tulisan kita. Lakukan proses mengedit beberapa kali, karena terkadang banyak hal yang tersembunyi tidak terlihat oleh mata kita.
Selamat mencoba semoga menulisnya ketagihan!
3 Komentar
"Mantap. "Tersentil" saya dengan alasan klasik belum mencoba menulis. Hehe.Terimakasih ilmunya Bu."
"Keren makasih bu Sumy motivasi menulisnya"