You need to enable javaScript to run this app.

PESAN KEMATIAN DARI TEMAN

  • Rabu, 16 Februari 2022
  • SUMYATI
  • 1 komentar
PESAN KEMATIAN DARI TEMAN

PESAN KEMATIAN DARI TEMAN

ESAI

OLEH : SUMYATI

  Apa yang paling dekat dengan kita tetapi tidak satu orang pun mengetahuinya?

 Dialah yang namanya kematian. Tidak ada orang yang tahu kapan kita akan meninggal, dan tidak ada yang tahu samapai usia berapa tahun kita akan hidup. Semuanya telah menjadi rahasia Alloh. Tugas kita sebagai manusia hanyalah mengimaninya, bahwa semua mahluk hidup   akan mati. Kita percaya kepada qodo dan qodar. Bagaimana pun usaha manusia jika memang sudah saatnya berpulang, maka tidak ada manusia yang bisa menghalangi, baik itu dokter spesialis, alim ulama, presiden, jika Alloh sudah berkehendak “kun fayakum,” maka jadilah.

Memasuki bulan Februari, bukan hanya langit yang mendung. Bukan hanya hujan yang turun membasahi bumi. Mendengar lapad, Innalillahi wainnailaihi rojiun” dari pengeras suara yang terpasang di masjid atau membaca pada pesan WhatsApp, terasa kematian semakin dekat dengan kita. Hari ini orang lain, mungkin nanti, esok atau lusa giliran kita.

 

Pernahkah kita membayangkan bagaimanakah kita akan mati nanti?

Apakah kita akan mati saat sedang beramal saleh? Apakah kita akan mati saat kita berbuat dosa? Nauzubillahiminzalik. Semua orang berharap mati dalam keadaan husnul khotimah. Dan semoga kita para pembaca termasuk orang-orang yang husnul khotimah, aamiin.

Sepanjang bulan Februari, ada empat buah pesan kematian dari rekan-rekan seprofesi ketika saya bertugas di Kadungora. Dua minggu yang lalu, ketika saya hendak masuk kelas handphone bordering. Rekan guru dari SMPN 1 Leles mengabari bahwa PakYayan dan Ibu Ai Wasilah meninggal pagi itu karena kecelakaan saat pergi sekolah, motor yang dikendarainya ditabrak truk sehingga keduanya meninggal ditempat.  Beliau sepasang suami istri yang sama-sama guru bahasa Indonesia, bahkan pernah bersama menjadi pengurus MGMP rayon 4 Garut. Usia beliau mungkin tidak jauh berselisih denganku.

Belum satu minggu, mendengar lagi kabar bahwa suami Ibu Mira, rekan guru waktu di SMPN 2 Kadungora, meninggal dunia. Kabar beliau sakit gagal ginjal telah lama di dengar. Ia mundar-mandir cuci darah ke rumah sakit. Entah berapa rupiah uangnya mengalir ke loket rumah sakit untuk berobat. Ibu Mira adalah muridku  waktu SMP, yang kemudian dia bersama-sama  menjadi guru. Baru-baru ini beliau Alhamdulillah berkat perjuangannya telah mendapat tunjangan sertifikasi. Namun Alloh berkehendak lain, ia harus mengikhlaskan suaminya pergi untuk selamanya.

Kabar mengejutkan hadir lagi kemarin malam. Saat terbangun untuk tahajud, aku penasaran ingin melihat wa. Ada banyak pesan yang belum dibaca. Aku  prioritaskan membaca pesan pribadi daripada pesan di grup.

“Bu, Pak Engkus, suami Ibu Ajeng meninggal,” sebuah pesan dari Shofa muridku dulu.

Innalillahi wainnailaihi rojiun. Dia sepasang suami istri yang yang telah menikah lebih dari sepuluh tahun belum dikaruniai anak. Bu Ajeng guru seni tari, ketika di SMPN Kadungora dulu.  Menurut cerita kemari sore ia baru pulang mengurus BPJS untuk saudaranya. Sore itu beliau minum antangin dan meminum kopi, tak berapa lama ia tertidur. Tengah malam istrinya membangunkan, tidak disangka mulutnya berbusa dan meninggal dunia.

Belum reda rasa kagetku, habis solat subuh penasaran membuka wa lagi. Betapa banyak berita duka cita, Yenti guru matematika SMPN 2 Kadungora, meninggal dunia tadi malam. Dia  adalah guru yang telah puluhan tahun menjadi tenaga honorer. Dia juga muridku dulu waktu SMP. Saya tahu persis bagaimana dia berjuang ingin menjadi PNS. Setiap ada tes selalu ia mengikutinya. Orangnya pendiam, jarang berkelakar. Begitulah jika orang matematika, tidak seperti kami orang bahasa atau guru umum lainnya.

Belakangan ini saya mendengar bahwa Yenti telah lulus P3K. Betapa senengnya dia diangkat menjadi guru, walau statusnya bukan PNS, akan tetapi sama-sama abdi negara, mendapat gaji dan tunjangan sama. Kabarnya dia kecapaian, terlalu berat berpikir. Memang betul untuk menjadi pegawai masa kini perjuangannya ekstra lebih. Ia terkena serangan jantung dan ada cairan di paru. Sehingga beberapa minggu ia harus terbaring tak berdaya di ICU, hingga tadi malam menghembuskan nafas terakhir. Berjuang berpuluh tahun ingin menjadi PNS, ketika tiba saatnya mendapat kesempatan menjadi P3K, tiba tiba Alloh mengambilnya dan menggantinya dengan gelar Alm (almarhum)

Dari peristiwa keempat rekan di atas, dapat saya simpulkan bahwa:

  1. Kematian itu sangat dekat, tidak diinginkan pasti akan terjadi.
  2. Tidak ada satu mahluk pun yang bisa menghalangi, jika Alloh sudah menghendaki
  3. Pangkat, jabatan, kekayaan, suami/istri, anak, setelah meninggal akan ditinggalkan tanpa bisa kompromi terlebih dahulu.
  4. Manusia hanyalah berencana, hanyalah bisa berdoa dan memohon, terkabul atau tidaknya doa hanya Allohlah yang maha kuasa.

 

Semoga kita senantiasa diberi umur panjang dan selalu mendapat hidayah untuk selalu beribadah kepada Alloh, beramal soleh, dan selalu berbuat baik kepada sesama umat manusia, aamiin.

Bagikan artikel ini:

1 Komentar

"Masya Allah ...kita harus banyak istighfar ya...apalagi usia sdh mendekati senja.."
16 Feb 2022 16:29 Omah Karmanah

Beri Komentar

Dr. H. CUCU JUNAEDI, S.Pd., M.Pd

- Kepala Sekolah -

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya lah akhirnya Website sekolah ini dengan...

Berlangganan
Jajak Pendapat

Bagaimana informasi di web ini ?

Hasil
Banner