You need to enable javaScript to run this app.

“COVID COMEBACK?” KITA DARING LAGI

  • Jum'at, 11 Februari 2022
  • SUMYATI
  • 2 komentar
“COVID COMEBACK?”  KITA DARING LAGI

COVID COMEBACK?

KITA DARING LAGI

 

 

 

Oleh :

Sumyati, M.Pd.

 

“Aaah, Daring lagi…” demikian reaksi para siswa saat menerima berita belajar daring.

Memasuki musim pancaroba situasi belajar mengajar tatap muka yang telah berlangsung  sekitar tujuh bulan dalam tahun pembelajaran 2021/2022, kini tertunda kembali. Belajar tatap muka merupakan pembelajaran yang diidam-idamkan, setelah satu setengah tahun  belajar daring. Tidak hanya para siswa yang merasakan jenuhnya belajar daring saat itu. Keluh kesah orang tua sering terdengar di mana-mana. Di warung-warung saat ibu-ibu belanja bertemu ibu-ibu lainnya, yang mereka keluhkan adalah jenuh menghadapi anak-anak belajar daring. Orang tua tidak sanggup mendampingi dan mendidik anak-anaknya. Berbagai perubahan tingkah laku anak-anak  tidak bisa dikendalikan oleh orang tua. Demikian pula media social, hampir tiap hari ramai dengan pemberitaan dan keluhan belajar daring.

Apakah hanya orang tua saja yang mengeluhkan kondisi seperti itu? Tentu saja tidak, kami guru-guru pun mengalami banyak permasalahan. Soal jenuh dan bete di rumah terus itu pasti. Yang paling krusial adalah masalah kepuasan dalam menyampaikan pendidikan dan pembelajaran. Materi pembelajaran dapat kami sampaikan walaupun secara daring, akan tetapi kami tidak bisa mendidik anak-anak hanya dengan instruksi secara daring. Anak-anak butuh sentuhan langsung, berupa: tegur safa, bahasa tubuh, dan ekspresi muka. Semua itu itu akan menjadi sebuah ramuan ajaib yang menjalar dalam memori anak didik, bahwa itu adalah tanda cinta ibu atau bapak kepadanya. Di sekolah itu, guru layaknya ibu dan bapak yang menyayanginya.

 

Bagaimana jika kondisinya tidak memungkinkan kembali untuk belajar tatap muka?

Memasuki bulan Februari curah hujan di Indonesia khususnya wilayah Bandung sangat tinggi. Kondisi ini dikenal dengan sebutan “PANCAROBA”. Sejak dulu, saat penulis masih kecil sering mendengar perkatan orang tua, “Lamun usum lebaran Cina sok loba panyakit, da hujan waé.” Orang tua dulu, Imlek itu disebut Lebaran Cina. Pada bulan ini, merupakan puncaknya musim penghujan di Indonesia. Yang paling mengerti teori tentang peristiwa alam ini, guru-guru IPS dan IPA yang berwenang untuk menjelaskannya. Hanya katanya di musim pancaroba seperti ini banyak masyarakat yang terserang penyakit, seperti: panas demam, flu dan batuk.

Kondisi seperti  ini, kini sedang terjadi di Jawa Barat, khususnya di Bandung. Masyarakat banyak yang mengalami serangan infeksi pernapasan, flu, batuk hingga demam. Faktor cuaca yang tidak menentu, terkadang panas, terkadang hujan disertai angin, sehingga dapat menyebabkan daya tahan tubuh menurun. Dalam udara dingin, virus lebih mudah bertahan dan berkembang biak berkali lipat. Udara dingin ini pun, berdampak buruk kepada system imun dalam melindungi virus-virus tersebut. Sehingga Ketika tubuh terpapar udara dingin, pembuluh darah menyempit sebagai upaya mempertahankan suhu di organ-organ tubuh. Akibatnya, sistem imun tubuh secara tidak langsung dapat terganggu dalam melawan infeksi virus. (https://hellosehat.com/sehat/)

Apalagi kini negeri kita sedang dilanda pandemi Covid 19. Saat musim panas, pada bulan Juni hingga Oktober, kasus Covid 19 sudah jauh menurun. Sehingga pemerintah mengizinkan kembali  membuka sekolah untuk pembelajaran tatap muka. Hal ini pun merupakan angin segar untuk masyarakat dan dunia pendidikan. Anak-anak bersuka cita kembali ke sekolah. Para orang tua, mulai bernafas lega. Mereka tidak dipusingkan kembali dengan tugas PJJ anak-anaknya. Karena pada kenyatannya banyak para orang tua yang sibuk mengerjakan tugas anaknya, sedangkan anak-anaknya asyik bermain atau tiduran. Demikian keluhan para orang tua saat pembagian rapor.

Mulai Jumat ini, 11 Februari 2022, anak-anak kembali belajar daring di rumah. Apa kata mereka saat menerima pengumuman lewat grup WhatsApp? Berbagai tanggapan para siswa bermunculan. Biasanya jika saya kirim pengumuman tugas atau informasi kegiatan, grup diam membisu. Namun kini ramai dengan berbagai komentar:

Siap Bu, terimakasih.”

Masya Allo, ko bisa!”

Aaah!

Manjangin rambut lagi, deh!”

Ketika saya memancaing pikiran mereka dengan komentar seperti ini, “Waah, nampaknya ada yang seneng lagi PJJ,” berbagai pernyatan mereka seperti jatuhnya air hujan. Pada umumnya mereka menjawab, “Saya lebih senang offlain daripada PJJ.” Alasan mereka PJJ itu jenuh, offlain itu menyenangkan. Dengan tatap muka bisa berinteraksi dengan teman dan selalu mendapat uang jajan. Meskipun banyak tugas yang harus dikerjakan, tetapi tetap menyenangkan.

Semoga saja dengan belajar di rumah anak-anak dapat terjaga kesehatannya. Upaya ini diharapkan bisa memutus mata rantai penyebaran covid. Guru dan siswa dapat terjaga kesehatannya. Jika ada yang terpapar, semoga lekas sembuh. Yang tidak terpapar semoga selamanya sehat walafiat. Manusia itu hanyalah berencana dan berusaha, selebihnya jika sudah berbicara takdir hanyalah Alloh yang lebih tahu. Wallohu a’lam bishawab

 

Bagikan artikel ini:

2 Komentar

"Covid 19"
12 Feb 2022 19:52 Sendinur akmal
"Sebenar nya saya tak ingin belajar di sekolah tapi keadaan kaya gini hanya bisa berdoa"
11 Feb 2022 20:12 Sendinur akmal

Beri Komentar

Dr. H. CUCU JUNAEDI, S.Pd., M.Pd

- Kepala Sekolah -

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya lah akhirnya Website sekolah ini dengan...

Berlangganan
Jajak Pendapat

Bagaimana informasi di web ini ?

Hasil
Banner