• SMP NEGERI 3 CILEUNYI
  • TAQWA, CERDAS, KREATIF, INOVATIF

KUTIFAN AUTO BIOGRAFI

 

ANTARA TUGAS NEGARA DAN ANAK

 

 H.RTirmidzi

Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan, pasti akan datang kemudahan. https://www.merdeka.com/

Hari ini, usiaku sudah mencapai setengah abad alias 50 tahun. Seperempat abadnya aku habiskan kisahnya di Kadungora. Ketiga puteriku kini sudah dewasa. Puteri sulungku Yunny Yuniarty  baru saja menyelesaikan pendidikan S2 dan telah memiliki satu putra, bayi mungil yang tengah lucu-lucunya. Si kecil ini yang mengingatkan omanya akan masa kecil ibu juga tante-tantenya. Anak nomor dua Meirina Ulfa Safarina, mahasiswa Fakultas Hukum semester 7, sedangkan si bungsu Ainusifa Agustinawati pelajar kelas 11 di SMA.

Iseng-iseng kuposting foto di medsos bersama cucu kesayangan. Berbagai komentar bermunculan tentang masa laluku. Terbayang kembali nuansa di era tahun ’97 hingga 2000- an, masa-masa sulit walau pahit kini menjadi kenangan indah.

Bu, emut waktos ibu ngawulang ngais dede bayi,” kata sala seorang muriku di fb yang sudah lupa wajahnya.

Memang betul dulu saya sering merasa kesulitan untuk menitipkan anak. Hari pertama sekolah, belum memiliki pembantu. Kepada siapa anak ini kutitipkan. Mana berani aku menyuruh tetangga.  Apa mungkin harus kubawa kesekolah?

Bagaimana kata kepala sekolah nanti, takut malah kena masalah. Bagaimana pula kata teman-teman guru nanti, jika mereka berkata,  “Kalau mau ngasuh anak dirumah saja.” Apakah aku siap dengan cemoohan? Bagaimana pula caranya membawa bayi, sedangkan menggendong saja  belum bisa. Ingin rasanya aku menangis, ingin rasanya aku menyalahkan suami. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Dengan terpaksa hari itu aku gendong ke sekolah.

Semua mata memandangku. Mungkin hanya aku satu-satunya guru yang berani membawa bayi ke sekolah saat mengajar. Anak-anak lebih banyak memperhatikanku daripada memperhatikan pelajaran. Mungkin mereka merasa kasihan padaku, mungkin pula merasa aneh melihatku. Saat itu aku tidak banyak berpikir, yang terpenting anakku selamat, tugas pun berjalan. Sesekali bayi kuletakkan di meja jika ia tertidur.

Esoknya, saat aku kebingungan lagi ke sekolah, ada tetangga yang menawarkan diri untuk mengasuh anakku. Kebetulan dia tetangga dekat yang tidak memiliki anak kecil, Pak Jaja dan mamah Upeng namanya. Ia pun memiliki dua orang anak gadis yang sudah dewasa. Intinya mereka bisa dipercaya untuk mengasuh anakku. Dan ternyata anaku nyaman berada di tangannya. Bahkan ia lebih senang berada dengannya daripada bersamaku, ibunya. Karena setiap saat bersama mereka.

Setelah usia dua tahun, kontrakan rumah di Bojong telah habis. Pemilik rumah sudah menyuruh kami pindah. Dengan terpaksa mencari rumah kontrakan lagi di Perum Batulawang. Otomatis, anakku tidak bisa dititipkan lagi di rumahnya Pak Jaja. Masalahnya, jika aku mampir menitipkan anak ke situ sering telat tiba di sekolah, karena aku seringnya berjalan kaki daripada naik ojeg. Keterlambatanku diketahui oleh kepala sekolah.

“Bu, sebaiknya anak ibu bawa saja kesekolah kalau ibu tidak punya pengasuh. Daripada ibu telat sampai di sekolah. Anak ibu aman kalau ada di tangan ibu,” tutur kepala sekolah, Drs. Yaya saat itu. Karena sudah mendapat izin, aku tidak ragu lagi membawa anak, apalagi putri pertamaku ini mudah bergaul.

Tiba di sekolah, putriku yang sering dipanggil Eneng, berlari mencari teman bermainnya, anak-anak SMP juga. Terkadang ia masuk ke semua kelas. Siapa saja yang ngajak, dia suka. Hanya saja keisengan anak ini luar biasa. Ia merayu jepit yang dipakai anak-anak perempuan. Mau tak mau karena mungkin yang minta anak guru, mereka kasihkan. Demikian pula pulpen dan pensil. Ketika tiba di kantor ia membawa semua rampasannya. Tapi saat istirahat atau ketika jam pulang, mereka suka nyusul barang rampasan tersebut.

Pernah suatu waktu saya sampai cape sana kemari mencari anak. Dicari ke tiap kelas yang biasa dijumpainya, tapi ternyata tidak ada. Aku pikir anakku hilang, tapi ternyata anak ini sedang bercerita bersama tukang cendol. Anehnya semua orang senang menanggapi cerita anak itu. Neng Yuni memang senang bercerita. Hal ini karena mungkin berawal dari kebiasaanku sedari bayi suka memberinya cerita, sehingga dia mampu bercerita kembali kepada orang lain.

Menurut yang saya intip diam-diam, hal yang diceritakannya tentang apa yang pernah ia dengar dan ia lihat. Ia bercerita dongeng, nabi, film atau bahkan cerita legenda yang pernah ia dengar. Hanya kalau anak ini sudah bertanya, ia tidak pernah puas dengan jawabannya. Dari sinilah lawan bicaranya perlahan mundur dengan berbagai alasan.  

Dan yang paling mendebarkan dari Yuni anakku, saat guru-guru mau rapat dinas. Kukira ia masih berada di lingkungan kantor, tidak taunya dia keluar. Selang beberapa menit tiba-tiba mendengar teriakan dari kolam.

“Ibuuuuu!”

Semua orang terperanjat. Anakku tercebur kolam yang cukup dalam untuk ukuran anakku saat itu. Untungnya diluar ada beberapa orang yang nolong. Saat anakku terjatuh, mereka tidak jauh dari tempat itu. Yuni menangis dengan baju basah kuyup. Rapat ditunda beberapa menit, sementara saya mengurusi anak, menjemurnya di lapang biar tidak kedinginan. Hal tersebut mengundang simpati guru olahraga untuk mencari baju olahraga yang masih sisa.

Hingga kini peristiwa itu tidak pernah lupa dalam memori teman-temanku. Jika mereka ketemu anakku, atau mereka melihat foto anakku, mereka selalu bertanya, “Ini Yuni yang kecebur ke kolam?” Tetapi jika mereka bertemu dengan anakku yang nomor dua, yang mereka tanyakan, “Ini si Ade yang suka ngegosip?” Terkadang aku tersipu malu dengan gosip anak-anakku. Hanya yang nomor tiga tidak pernah dikenang mereka, karena anak ini pendiam.

 Jika aku renungkan sekarang, melihat ketiga anak-anakku yang sudah pada dewasa. Mereka semua hidup mandiri. Jika aku bandingkan dengan keponakan, atau anak orang lain yang senantiasa hidup manja atau dimanja. Sehingga segalanya harus selalu diladenin padahal mereka sudah bisa. Hatiku sering merasa jengkel. Tapi ketika aku mendapat pemberian dari anak-anak, baik itu makanan atau pakaian, hati ini terasa sedih bagai disayat-sayat. Sungguh aku sering membawanya sengsara, tapi anak-anakku selalu ingin membuat ibunya senang.

Dulu ia dibawa hidup menderita. Anak pertama dan anak kedua, yang pernah tinggal di Kadungora selama saya hidup susah. Mereka setiap hari berjalan kaki melewati pematang sawah, atau melewati jalan kereta, karena tidak punya uang untuk naik ojeg. Terkadang ia jatuh ke lumpur, lalu saya marahi karena tidak hati-hati. Baju dan sendalnya kotor. Yang paling menyedihkan setiap aku tanya jawabannya tidak jujur.

”Neng, cape tidak?”

“Tidak, Bu!” mulut kecilnya menjawab.

“Neng, ibu tau. Eneng itu cape. Itu keringat mengucur di muka,” jawabku sambil berhenti lalu memeluknya.

“Lalu ia mengangguk, menatap wajahku. Aku semakin sedih, semakin berdosa, melihat ketidak jujuran anakku karena ia takut. Ia takut ibunya marah jika menjawab cape. Dan ia takut besoknya dititipkan di rumah tetangga. Padahal aku tidak ingin menitipkannya juga.

Dari rumah, dia sudah diwanti-wanti, jangan banyak jajan karena ibu tidak punya uang. Yuni, anak penurut. Ia tidak pernah minta jajan kalau tidak dikasih. Tapi sebagai ibu tidaklah mungkin membiarkan anakku kelaparan. Jika aku sedang tidak punya uang, aku terpaksa ngambil jajanan dulu. Besok lusa jika suamiku sudah pulang dibayar. Karena itu, anakku selalu menanyakan kapan ayah pulang. Ia tahu 

jika ayahnya pulang,  ke sekolah tidak akan berjalan kaki dan bisa dikasih uang jajan. Dan jika ayahnya di rumah, ia tidak ikut sekolah. Ia bisa bermain-main mencari capung di halaman rumah.

Setelah masuk SD, Yuni masih ikut ke sekolah. Terkadang ia pergi ke sekolah dan pulang sekolahnya ke SMP, karena ibunya masih di sekolah. Sementara Meirina, yang biasanya dititipkan setelah berusia dua tahun ia ingin ikut bersama ibunya juga. Akhirnya aku terkadang membawa dua anak sekaligus ke sekolah. Kedua anakku sudah akrab dengan angin, hujan dan panas. Membawa dua anak sekaligus setiap hari, terkadang mengundang sakit hati dari tukang ojeg.

Embung mawa ibu eta mah loba anakna,” tukas tukang ojeg sambil memalingkan muka ke orang lain.

“Ya Alloh, semoga aku bisa terbeli mobil,” bisik hatiku.

Tahun 2003, suamiku sudah tidak mau pulang ke Kadungora, semenjak ia menjadi dosen di Sukabumi. Terkadang aku ke rumah mamah ke cianjur, baru bisa bertemu denga suami. Atau bahkan terkadang ikut-ikutan ke Sukabumi nginep di rumah saudara. Hidup menjadi tidak karuan. Ko, hidup saya bersama suami seperti orang berpacaran harus bertemu di luar. Akhirnya saya menuntut untuk segera membeli rumah. Dan tempat yang kami pilih adalah Bandung, biar adil. Suami pulang ke Bandung tidak terlalu jauh, dan saya pulang juga ke Bandung.

Membeli rumah membutuhkan proses, tidak bisa langsung jadi. Karena itu kami mengungsi dulu di rumah mamah di Cianjur. Sekolah anak, aku pindahkan ke SDN Ibu Dewi di Cianjur. Sedangkan aku setiap hari pulang pergi ke sekolah dari Cianjur. Alhamdulillah, saat ini suami sudah bisa membeli mobil. Jadi   kami komitmen memakai mobil sesuai jadwal mengajar, tiga hari aku yang make, empat hari bagian suami.

Selama satu tahun pulang pergi Cianjur-Kadungora tidak terasa cape, karena kedua anakku ada yang membantu mengurusnya yaitu mamahku. Tapi setelah rumah di Bandung selesai saya pindah ke Bandung. Sebulan tinggal di Bandung, aku melahirkan putri bungsu. Alhamdulillah meskipun kami mempunyai bayi lagi, ekonomi keluarga sudah membaik.

Si bungsu setiap hari di bawa ke Kadungora, karena pengasuh anakku berada di Bojong. Dia Ibu Aam, tetanggaku waktu tinggal di sana. Saat ini, transfortasi tidak menjadi masalah. Suamiku telah menyiapkan sopir dan mobil. Sampai usia 4 tahun anakku dibawah pengasuhan ibu Aam. Setelah usia 5 tahun ia dimasukan sekolah taman kanak-kanak di Bandung.

Saat inilah anakku diuji lagi kemandiriannya. Aku tidak pernah bisa mengantar anakku sekolah seperti ibu-ibu temannya. Tidak pernah bisa mengantar anakku ke kolam renang jika dari sekolah ada kegiatan renang. Aku hanya bisa menitipkan kepada gurunya. Terkadang aku hanya bisa menangis, jika anakku membandingkan dirinya dengan temannya. Tanpa pengawasan ibu, dia sering sakit-sakitan karena sering tidak makan. Betapa tidak berguna aku jadi ibu. Tapi bagaimana lagi, tidak ada pembantu yang betah tinggal di rumahku.

Aku adalah ibu dan aku juga guru. Jika anak-anaku membutuhkan ibu, bagaimana dengan anak didikku. Jika aku memilih salah satu, maka yang satu menjadi korban. Aku yakin kepada sang pencipta, pasti ada hikmah besar dibalik sebuah peristiwa. Alhamdulillah, anak-anakku yang selalu menjadi korban, kini mereka tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri. Dengan demikian, yakin dan sangat yakin selalu ada hikmah dibalik kesulitan, dari setiap kesulitan pasti ada jalan untuk mencapai kemenangan.

Komentar

Komentarnya : bagus bisa di jadikan pelajaran sebagai orang tua. Jadi kesimpulannya menjadi guru dan seorang ibu itu tidak mudah dan besar tanggung jawabnya. Jadi kita harus menghargai guru apalagi yang menjadi seorang ibu.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
PUISI RAMADAN

PRAKTIK ZAKAT oleh Sumyati antrian anak pria wanitasatu persatu mendekati mejadijaga tiga anak beliadepan kelas merekadi tangannya uang recehan enam lembar lima ribuan anak berkemeja

23/04/2022 06:38 - Oleh SUMYATI - Dilihat 94 kali
PUISI RAMADAN

BAJU LEBARAN Oleh Sumyati tradisi idul firtiyang tak terpungkiridari cacah hingga priyayiwalau lidah mengingkari, meredam hatidari rayuan mata kanan dan kirishopee, lazada dan toko pe

23/04/2022 06:32 - Oleh SUMYATI - Dilihat 47 kali
PUISI RAMADAN

    ISYA Oleh Sumyati   Rasululloh bersabda:subuh dan isya adalah salat terberat bagi para munafikpadahal telah alloh persiapkan pahalasetara pahala salat sunat sete

21/04/2022 17:10 - Oleh SUMYATI - Dilihat 77 kali
RAMADAN BERPUISI 3

    PESAN AR-RAHMAN    Tahukah Kalian: kenapa allah menciptakan mahluknya berpasangan? ada kemarau ada hujan   ada panas ada dingin ada susah ada sena

16/04/2022 20:05 - Oleh SUMYATI - Dilihat 71 kali
RAMADAN BERPUISI 2

  RASA, CINTA DAN DOSA    Masih tentang hati dan rasa yang tak mampu berhenti mengeja angan, harapan dan kenyataan duka, lara dan kecewa hingga cemburu mengusut na

16/04/2022 19:58 - Oleh SUMYATI - Dilihat 82 kali
ADAKAH YANG KAU LIHAT TAK SEIMBANG Oleh : Omah Karmanah

  GAPAILAH CITA-CITAMU SETINGGI LANGIT, TERBANGLAH SAMPAI KE ATAS AWAN TANPA SENGIT , TUK MENGGAPAI CITA-CITA DAN HARAPAN, TETAP SEMANGAT TUK MASA DEPAN WALAU GELOMBANG DATANG

15/04/2022 14:57 - Oleh Dra. Omah Karmanah, M.M.Pd. - Dilihat 64 kali
Teks Fabel ( Moni dan Gucci)

Oleh: Dra. Omah Karmanah, M.M.Pd. Cerita fabel merupakan cerita tentang kehidupan binatang yang berperilaku menyerupai manusia.  Fabel termasuk jenis cerita fiksi, bukan kisah t

15/04/2022 12:21 - Oleh Dra. Omah Karmanah, M.M.Pd. - Dilihat 128 kali
AYO BERINOVASI SESUAI PERKEMBANGAN ZAMAN

Oleh : Dra. OMAH KARMANAH, M.M.Pd. Guru merupakan ujung tombak di lapangan. Sebagai guru perlu berinovasi untuk menyesuaikannya dengan kurikulum yang berlaku saat ini. Perkembangan k

14/04/2022 23:56 - Oleh Dra. Omah Karmanah, M.M.Pd. - Dilihat 90 kali
MENJADI GURU MENJADI IBU

Saya sudah menjadi guru sebelum menikah. Begitu saya selesai sidang dan sebelum wisuda, saya sudah diterima untuk mengajar  di sekolah negeri sebagai guru honorer. Dalam benak saya

07/04/2022 15:06 - Oleh Lina Herlina, S.Pd. - Dilihat 65 kali
MENCIPTAKAN KESELARASAN PERSPEKTIF GURU, SISWA DAN ORANG TUA

  Dunia pendidikan sudah memasuki tahun kedua terguncang prahara sebagai dampak wabah pandemi covid-19. Riuhnya suasana sekolah dengan hiruk pikuknya guru dan siswa beraktivitas d

03/04/2022 21:17 - Oleh Lina Herlina, S.Pd. - Dilihat 78 kali