• SMP NEGERI 3 CILEUNYI
  • TAQWA, CERDAS, KREATIF, INOVATIF

MASIHKAH GURU ZAMAN NOW MENJADI PENGGANTI ORANG TUA SISWA DI SEKOLAH?

MASIHKAH GURU ZAMAN NOW MENJADI PENGGANTI ORANG TUA SISWA DI SEKOLAH?

 

Saat memulai tulisan ini, jujur pikiran dan perasaan saya sedang terbang mengingat masa masa sekolah tatap muka sebelum masa pembelajaran jauh berlangsung seperti sekarang ini. Saya sendiri membayangkan setiap hari saya pergi ke sekolah untuk menemui putra putri titipan orang tua. Pun saya juga melepas putra putri saya untuk dibimbing guru di sekolah.

Masa masa itu, dan bahkan sejak saya kecil dulu, gambaran guru sebagai gudangnya ilmu adalah suatu kepastian yang nyata. Anak anak hanya bisa belajar dari gurunya, tidak dari yang lain. Anak anak pun hanya diasuh oleh orang tua, bukan oleh yang lain. Ketika anak diberangkatkan sekolah, orang tua merasa tenang karena waktu yang dihabiskan anak di sekolah akan berguna saat pembimbingan di alihkan ke tangan guru pada jam yang telah ditentukan. Guru adalah pengganti orang tua di sekolah.

Rasa percaya orang tua, direspon guru bukan sekedar dengan antusias tapi juga penuh ketulusan. Anak anak belajar dengan tenang. Berteman dengan perkembangan sosial yang sehat dan alami. Guru mengajar dengan bahagia. Orang tua pun tentram mencari nafkah untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Sungguh kehidupan yang indah pada masanya. Hasilnya, siswa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi pribadi yang berilmu dan berakhlak. Suatu keseimbangan antara menguasai ilmu atas bimbingan guru dan juga memiliki kesehatan jiwa yang baik atas asuhan orang tua

Namun disadari atau tidak, sejak hadirnya masa masa penggunaan internet dalam setiap sendi kehidupan, semuanya begitu cepat mengalami perubahan yang drastis bahkan dramatis. Di satu sisi banyak dampak positif dari pemanfaatan teknologi internet ini. Hanya saja akibat negatif pun tak kalah berimbas pada menurunnya keterikatan manusia satu sama lain.

Mengapa demikian? Salah satu penyebabnya adalah kecendrungan terpenuhinya banyak kebutuhan manusia dengan satu klik mengaktifkan internet. Mau ilmu pengetahuan apapun, saat ini hanya tinggal klik internet dan lahan luas pun terdampar disana. Seakan tak tampak lagi urgensi kehadiran guru sebagai pentransfer ilmu. Karena jika kebutuhan terpenuhi dari internet, maka tak lagi butuh dari siapa siapa. Begitulah jika fungsi guru diandaikan sebagai gudangnya ilmu. Gudang ini sudah jauh lebih banyak persediaannya cukup dengan membuka jaringan internet.

Jika individu sudah dengan genggaman internetnya sendiri sendiri, keterhubungan satu sama lain cukup melalui dunia maya saja. Apakah keterhubungan itu mengikat? Ini lah yang bisa jadi bahan renungan. Inilah yang membedakan antara hubungan langsung dan hubungan tidak langsung. Guru zaman now memang bukan lagi gudangnya ilmu, tapi internet tidak bisa menyediakan akses kasih sayang yang menyentuh batin individu secara original. Atau lebih tepatnya, internet tidak dapat memenuhi kebutuhan psikologis individu. Oleh karenanya terjadi kepincangan atau bahkan kecacatan dalam diri individu yang cukup permanen. Bahkan terjadi pada masyarakat masal yang secara masif menggerus aspek moralitas pada kehidupan.

Di sinilah saya tergugah untuk merenungkan bagaimana sebenarnya peran yang harus diaktifkan guru dalam mempertahankan eksistensi sekolah sebagai dunia pendidikan bagi "pembibitan" generasi penerus bangsa. Ya, masihkah guru bisa berperan sebagai pengganti orang tua di rumah? Jawabannya adalah harus, guru harus menggebrak dirinya untuk tidak lagi fokus menjadi guru pintar banyak ilmu.

Saya beranggapan, tampaknya guru kekinian akan lebih bermakna jika bisa sepenuhnya mengerahkan jiwa sebagai gudangnya kebutuhan psikologis siswa. Jika anak puas dengan menimba ilmu dari mbah google, jangan tersinggung guru tidak dianggap lalu menstarter emosi dengan memarahi siswa. Tapi jadilah sosok yang tetap hadir mengarahkan dan menunjukkan bagaimana cara menggunakan internet dengan bijak. Sapaan, senyuman, penghargaan, melihat sisi kelebihan dan kebaikan siswa serta menjadi penenang kegundahan siswa adalah fungsi fungsi guru yang tidak dapat dilakukan internet. Marilah beriklan meraih kembali siswa siswa yang "hilang rasa" dengan menunjukkan hal hal yang tak bisa dilakukan internet. Siswa adalah makhluk bernama manusia yang menghidupkannya tidak cukup hanya dicharger dengan pengetahuan. Lebih dari itu, sebagai manusia, siswa perlu "dihidupkan" jiwanya dengan dipenuhi kebutuhann psikologisnya melalui ketulusan sentuhan guru dan orang tua.

Marilah menjadi guru yang tetap berperan sebagai orang tua. Jadilah magnet yang bisa mengalihkan perhatian siswa dari dunia maya ke dunia nyata yang penuh dengan kebaikan dan ketenangan batin. Fokuslah memandang siswa ke dalam jiwanya dan segala potensi positifnya, jangan hanya menjadi hakim untuk mengadili setiap kekurangan dan kesalahan saja. Ingatlah siswa pasti memiliki kelebihan walau yang tampak hanya kekurangannya saja. Tak perlu baper jika siswa tidak sesuai harapan. Lebih baik jangan berharap lebih siswa harus tampak ideal secara instant. Tentu guru akan bahagia jika melihat siswa yang pintar dan baik. Namun ketahuilah bahwa rasa bahagia itu akan lebih indah jika kebaikan akhlak siswa terbentuk oleh hasil resep racikan tangan kita sendiri. Tangan dan hati guru.

Say no to "siswa ga ada akhlak"

Dan katakan bahwa "saya guru pembentuk akhlak siswa"

 

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KUNCI KESUKSESAN RAFA

  KUNCI KESUKSESAN RAFA Oleh: Alya Winanda Syawalina Rizki (Juara I Lomba Menulis Cerpen Rayon 5 Kabupaten Bandung)    Cuaca pagi ini sangat cerah. Kulihat senyuma

20/10/2022 14:16 - Oleh SUMYATI - Dilihat 290 kali
NGANJANG KA BULAN

  NGANJANG KA BULAN Ku Sumyati   Wanci nyérélék maju ka peuting. Hawa di kamar   beuki bayeungyang waé karasana ku Néng Asih m

22/09/2022 16:35 - Oleh SUMYATI - Dilihat 243 kali
TERJEBAK TULISAN SENDIRI

     (Oleh: Sumyati )   Mobil xenia putih berhenti pas di depan gerbang utama rumah berlantai dua. Rumah berpagar batu alam yang terletak di jalan utama terlihat

16/09/2022 19:36 - Oleh SUMYATI - Dilihat 295 kali
PUISI RAMADAN

PRAKTIK ZAKAT oleh Sumyati antrian anak pria wanitasatu persatu mendekati mejadijaga tiga anak beliadepan kelas merekadi tangannya uang recehan enam lembar lima ribuan anak berkemeja

23/04/2022 06:38 - Oleh SUMYATI - Dilihat 763 kali
PUISI RAMADAN

BAJU LEBARAN Oleh Sumyati tradisi idul firtiyang tak terpungkiridari cacah hingga priyayiwalau lidah mengingkari, meredam hatidari rayuan mata kanan dan kirishopee, lazada dan toko pe

23/04/2022 06:32 - Oleh SUMYATI - Dilihat 321 kali
PUISI RAMADAN

    ISYA Oleh Sumyati   Rasululloh bersabda:subuh dan isya adalah salat terberat bagi para munafikpadahal telah alloh persiapkan pahalasetara pahala salat sunat sete

21/04/2022 17:10 - Oleh SUMYATI - Dilihat 619 kali
KUTIFAN AUTO BIOGRAFI

  ANTARA TUGAS NEGARA DAN ANAK    H.R. Tirmidzi Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran

16/04/2022 20:37 - Oleh SUMYATI - Dilihat 645 kali
RAMADAN BERPUISI 3

    PESAN AR-RAHMAN    Tahukah Kalian: kenapa allah menciptakan mahluknya berpasangan? ada kemarau ada hujan   ada panas ada dingin ada susah ada sena

16/04/2022 20:05 - Oleh SUMYATI - Dilihat 411 kali
RAMADAN BERPUISI 2

  RASA, CINTA DAN DOSA    Masih tentang hati dan rasa yang tak mampu berhenti mengeja angan, harapan dan kenyataan duka, lara dan kecewa hingga cemburu mengusut na

16/04/2022 19:58 - Oleh SUMYATI - Dilihat 358 kali
ADAKAH YANG KAU LIHAT TAK SEIMBANG Oleh : Omah Karmanah

  GAPAILAH CITA-CITAMU SETINGGI LANGIT, TERBANGLAH SAMPAI KE ATAS AWAN TANPA SENGIT , TUK MENGGAPAI CITA-CITA DAN HARAPAN, TETAP SEMANGAT TUK MASA DEPAN WALAU GELOMBANG DATANG

15/04/2022 14:57 - Oleh Dra. Omah Karmanah, M.M.Pd. - Dilihat 442 kali